“Setiap
bayi dilahirkan sesuai dengan fitrahnya. Kedua orang tuanyalah yang
menjadikannya penganut agama Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. (HR Muslim).
Begitu
sucinya nilai seorang anak manusia dalam pandangan agama islam. Tidak ada yang
namanya anak haram, anak kotor dan lainnya, yang ada hanya orang tuanyalah yang
menjadikan anak sebagaimana orang tua mau. Anak itu ibarat kertas putih yang
suci tanpa goresan tinta sedikitpun. Orang tualah yang akan menggoreskan tinta
itu, entah berupa goresan tinta kebaikan atau keburukan.
Ayah
bunda yang dirahmati Allah, anak yang merupakan buah hati kita adalah titipan
dari Allah Swt. Ia adalah amanah yang harus kita jaga dengan sepenuh hati kita,
sepenuh jiwa raga kita. Marilah kita goreskan tinta-tinta kebaikan kepada diri
anak kita sedari kecil, sedini mungkin selagi akhlak dan sikap anak yang masih fitrah
itu bisa kita bentuk sesuai kehendak kita yakni tentunya yang sesuai dengan
akidah islam yang menjadi landasan dari segala macam landasan kehidupan.
Penanaman
akidah islam sejak dini kepada anak kita tentunya sudah bisa kita mulai dari
semenjak anak kita dalam kandungan bahkan ada yang mengatakan bahwa penanaman
akidah yang baik untuk anak kita bisa dimulai dari semenjak kita meniatkan diri
untuk menikah dan memilih pasangan hidup. Pandai memilih pasangan hidup yang
baik terutama agamanya merupakan salah satu yang menjadi hak anak kita sebelum ia
dilahirkan kedunia ini. Bagaimana kita bisa menjadikan anak kita menjadi baik
jika pasangan hidup kita saja lalai dalam agamanya. Bagaimana seorang ibu atau
ayah bisa menjadikan anaknya menjadi shaleh-shalehah kalau kedua orang tuanya
saja tidak mengedepankan akidah dan akhlak yang baik dalam kehidupan
sehari-harinya. Ingat ayah bunda, anak kita adalah peniru yang ulung. Ia akan
meniru sikap dan perilaku kita sehari-hari. Ia akan bertindak seperti apa yang
dilihatnya dari orang-orang terdekatnya terutama kedua orang tuanya dan
terutama lagi sang ibu yang sehari-harinya berada dekat dengan anak-anaknya.
Oleh
sebab itu ayah bunda, sebagai orang tua marilah kita untuk senantiasa
memperbaiki diri, memantapkan diri dan memantaskan diri dengan ilmu agama dan
ilmu pengetahuan. Janganlah kita menjadi orang tua yang jumud dan kolot, yang
mendidik anak-anak kita tanpa ilmu, hanya dengan ilmu prasangka dan ilmu turun
temurun saja. Banyak- banyaklah mengikuti majlis ilmu dan membaca buku agar
wawasan kita tentang ilmu keluarga, ilmu akidah dan ilmu-ilmu lainnya
senantiasa terasah dan terbuka. Agar kita bisa menjadi orang tua yang bijak dan
bisa menjadi teladan bagi anak-anak kita hingga keturunan kita semuanya Aamiin
Ya Rabbal’ alamin.
Kalau
boleh saya berkata kepada ayah bunda yang sampai saat ini masih berpikiran kolot tentang pendidikan anak, hello
ayah bunda!!!, zaman sudah berubah, tolong buka mata dan hati ayah bunda
selebar-lebarnya. Gaya pendidikan untuk anak zaman dulu dan zaman sekarang
sangat-sangatlah berbeda ayah bunda. Tidak bisa kita menerapkan gaya pendidikan
orang tua- orang tua kita zaman dahulu kala kepada anak-anak kita saat ini.
Karena fase zaman kita amat sangatlah berbeda. Kalau dulu kita belum mengenal
yang namanya teknologi baik berupa televisi, radio, handphone canggih (smartphone) dan lainnya, sekarang bahkan
anak TK saja (Taman Kanak-Kanak) sudah fasih menggunakan smartphone.
Kalau
kita sebagai orang tua tidak pandai-pandai dalam memilihkan informasi untuk
anak kita, paparan informasi dari luaran sana sangatlah kencang dan berbahaya.
Dimana pornografi dan pornoaksi merajalela. Mengerikan sekali ya ayah bunda.
Sudah banyak sekali contohnya anak-anak yang menjadi korban informasi yang
salah kaprah. Anak usia SD saja sudah lihai pacaran bahkan anak SMP sudah
banyak yang jadi cabe-cabean. Istilah
apaan pula ya itu ayah bunda hehe. Nah kalau ayah bunda masih berpikiran kolot
dan tidak mau melek informasi, tidak mau
menuntut ilmu dan membaca buku, mau jadi apa anak kita nanti. Ternyata menjadi
orang tua itu tidak gampang ya ayah bunda?baru saya rasakan soalnya hehehe.
Bagaimana
kita bisa menanamkan akidah yang baik dan lurus kepada anak kita kalau kita
saja masih enggan dan malas untuk memperbaiki diri. Jangan harap anak kita akan
rajin shalat kalau kita saja tidak shalat. Jangan harap anak kita akan pintar
dan cerdas kalau kita sebagai orang tua saja jumudnya gak ketolongan. Ingat sekali lagi ayah bunda, anak kita
adalah penjiplak dan peniru ulung dari sikap dan sifat kita sehari-hari. Saat
ini banyak sekali saya menyaksikan terutama dilingkungan keluarga saya sendiri,
bibi saya, kakak ipar saya, paman saya, mereka semua menyuruh anaknya untuk
mengerjakan shalat, tapi mereka sendiri belum shalat dan bahkan ada yang asyik
menonton televisi. Saya jadi berpikir bagaimana anaknya mau shalat sementara orang
tuanya saja tidak shalat?.
Allah
ta’ala berfirman “Hai orang-orang
yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?” (QS.
Ash-Shaff:2). Jadi marilah ayah bunda kita senantiasa belajar untuk menjadi
tauladan yang baik untuk anak-anak kita. Janganlah kita menyuruh tapi kita
sendiri tidak melakukannya.
Sampai
disini dulu ya ayah bunda coretan-coretannya. Saya berharap walaupun tidak
banyak semoga ada manfaatnya buat ayah dan bunda atau untuk calon ayah dan
bunda dan terutama untuk saya pribadi tentunya, semoga goresan ini bisa menjadi
alarm pengingat dan motivasi saya agar sayapun tidak hanya menjadi manusia dan
ibu yang pandai berkata-kata tapi minim aplikasi. Oh ya saya juga sebagai orang
tua bisa dibilang masih newbe karena
baru memiliki anak satu jadi tentunya masih jauh sekali pengalaman mendidik
anaknya daripada ayah bunda yang sudah senior dan melanglang buana, yang sudah
banyak makan asam garam kehidupan. Tapi tidak putus-putusnya saya ingatkan agar
kita semua sebagai orang tua untuk senantiasa mengupgrade ilmu kita sama-sama, supaya kita bisa menjadi orang tua
teladan yang menjadi kebanggaan anak-anak kita Aamiin Ya Rabbal’ alamin.


