Senin, 31 Agustus 2015

SETIAP ANAK ITU SUCI LOH


“Setiap bayi dilahirkan sesuai dengan fitrahnya. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya penganut agama Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. (HR Muslim).
Begitu sucinya nilai seorang anak manusia dalam pandangan agama islam. Tidak ada yang namanya anak haram, anak kotor dan lainnya, yang ada hanya orang tuanyalah yang menjadikan anak sebagaimana orang tua mau. Anak itu ibarat kertas putih yang suci tanpa goresan tinta sedikitpun. Orang tualah yang akan menggoreskan tinta itu, entah berupa goresan tinta kebaikan atau keburukan.
Ayah bunda yang dirahmati Allah, anak yang merupakan buah hati kita adalah titipan dari Allah Swt. Ia adalah amanah yang harus kita jaga dengan sepenuh hati kita, sepenuh jiwa raga kita. Marilah kita goreskan tinta-tinta kebaikan kepada diri anak kita sedari kecil, sedini mungkin selagi akhlak dan sikap anak yang masih fitrah itu bisa kita bentuk sesuai kehendak kita yakni tentunya yang sesuai dengan akidah islam yang menjadi landasan dari segala macam landasan kehidupan.
Penanaman akidah islam sejak dini kepada anak kita tentunya sudah bisa kita mulai dari semenjak anak kita dalam kandungan bahkan ada yang mengatakan bahwa penanaman akidah yang baik untuk anak kita bisa dimulai dari semenjak kita meniatkan diri untuk menikah dan memilih pasangan hidup. Pandai memilih pasangan hidup yang baik terutama agamanya merupakan salah satu yang menjadi hak anak kita sebelum ia dilahirkan kedunia ini. Bagaimana kita bisa menjadikan anak kita menjadi baik jika pasangan hidup kita saja lalai dalam agamanya. Bagaimana seorang ibu atau ayah bisa menjadikan anaknya menjadi shaleh-shalehah kalau kedua orang tuanya saja tidak mengedepankan akidah dan akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-harinya. Ingat ayah bunda, anak kita adalah peniru yang ulung. Ia akan meniru sikap dan perilaku kita sehari-hari. Ia akan bertindak seperti apa yang dilihatnya dari orang-orang terdekatnya terutama kedua orang tuanya dan terutama lagi sang ibu yang sehari-harinya berada dekat dengan anak-anaknya.
Oleh sebab itu ayah bunda, sebagai orang tua marilah kita untuk senantiasa memperbaiki diri, memantapkan diri dan memantaskan diri dengan ilmu agama dan ilmu pengetahuan. Janganlah kita menjadi orang tua yang jumud dan kolot, yang mendidik anak-anak kita tanpa ilmu, hanya dengan ilmu prasangka dan ilmu turun temurun saja. Banyak- banyaklah mengikuti majlis ilmu dan membaca buku agar wawasan kita tentang ilmu keluarga, ilmu akidah dan ilmu-ilmu lainnya senantiasa terasah dan terbuka. Agar kita bisa menjadi orang tua yang bijak dan bisa menjadi teladan bagi anak-anak kita hingga keturunan kita semuanya Aamiin Ya Rabbal’ alamin.
Kalau boleh saya berkata kepada ayah bunda yang sampai saat ini masih berpikiran kolot tentang pendidikan anak, hello ayah bunda!!!, zaman sudah berubah, tolong buka mata dan hati ayah bunda selebar-lebarnya. Gaya pendidikan untuk anak zaman dulu dan zaman sekarang sangat-sangatlah berbeda ayah bunda. Tidak bisa kita menerapkan gaya pendidikan orang tua- orang tua kita zaman dahulu kala kepada anak-anak kita saat ini. Karena fase zaman kita amat sangatlah berbeda. Kalau dulu kita belum mengenal yang namanya teknologi baik berupa televisi, radio, handphone canggih (smartphone) dan lainnya, sekarang bahkan anak TK saja (Taman Kanak-Kanak) sudah fasih menggunakan smartphone.
Kalau kita sebagai orang tua tidak pandai-pandai dalam memilihkan informasi untuk anak kita, paparan informasi dari luaran sana sangatlah kencang dan berbahaya. Dimana pornografi dan pornoaksi merajalela. Mengerikan sekali ya ayah bunda. Sudah banyak sekali contohnya anak-anak yang menjadi korban informasi yang salah kaprah. Anak usia SD saja sudah lihai pacaran bahkan anak SMP sudah banyak yang jadi cabe-cabean. Istilah apaan pula ya itu ayah bunda hehe. Nah kalau ayah bunda masih berpikiran kolot dan  tidak mau melek informasi, tidak mau menuntut ilmu dan membaca buku, mau jadi apa anak kita nanti. Ternyata menjadi orang tua itu tidak gampang ya ayah bunda?baru saya rasakan soalnya hehehe.
Bagaimana kita bisa menanamkan akidah yang baik dan lurus kepada anak kita kalau kita saja masih enggan dan malas untuk memperbaiki diri. Jangan harap anak kita akan rajin shalat kalau kita saja tidak shalat. Jangan harap anak kita akan pintar dan cerdas kalau kita sebagai orang tua saja jumudnya gak ketolongan. Ingat sekali lagi ayah bunda, anak kita adalah penjiplak dan peniru ulung dari sikap dan sifat kita sehari-hari. Saat ini banyak sekali saya menyaksikan terutama dilingkungan keluarga saya sendiri, bibi saya, kakak ipar saya, paman saya, mereka semua menyuruh anaknya untuk mengerjakan shalat, tapi mereka sendiri belum shalat dan bahkan ada yang asyik menonton televisi. Saya jadi berpikir bagaimana anaknya mau shalat sementara orang tuanya saja tidak shalat?.
Allah ta’ala berfirman “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?” (QS. Ash-Shaff:2). Jadi marilah ayah bunda kita senantiasa belajar untuk menjadi tauladan yang baik untuk anak-anak kita. Janganlah kita menyuruh tapi kita sendiri tidak melakukannya.

Sampai disini dulu ya ayah bunda coretan-coretannya. Saya berharap walaupun tidak banyak semoga ada manfaatnya buat ayah dan bunda atau untuk calon ayah dan bunda dan terutama untuk saya pribadi tentunya, semoga goresan ini bisa menjadi alarm pengingat dan motivasi saya agar sayapun tidak hanya menjadi manusia dan ibu yang pandai berkata-kata tapi minim aplikasi. Oh ya saya juga sebagai orang tua bisa dibilang masih newbe karena baru memiliki anak satu jadi tentunya masih jauh sekali pengalaman mendidik anaknya daripada ayah bunda yang sudah senior dan melanglang buana, yang sudah banyak makan asam garam kehidupan. Tapi tidak putus-putusnya saya ingatkan agar kita semua sebagai orang tua untuk senantiasa mengupgrade ilmu kita sama-sama, supaya kita bisa menjadi orang tua teladan yang menjadi kebanggaan anak-anak kita Aamiin Ya Rabbal’ alamin.

TEMANILAH ANAKMU BERMAIN



Ayah bunda tahukah kalian bahwa Rasulullah itu tidak pernah gengsi dan malu untuk menemani anak-anak kecil bermain. Rasulullah selalu menemani anak-anak bermain pada beberapa kesempatan. Apakah sebabnya Rasulullah berbuat demikian? ternyata menemani anak-anak bermain merupakan hak anak yang harus kita penuhi sebagai orang tua. Dengan menemani anak bermain, anak bisa banyak belajar dari kita. Dengan demikian akhlak dan perilaku anak juga bisa terarah.
Menemani anak bermain juga merupakan sarana bagi orang tua untuk membangun kedekatan dengan anaknya. Lewat permainan yang menghibur terciptalah keceriaan dan tawa riang lepas baik dari anak maupun dari orang tua sendiri. Anak merasa terhibur karena ayah bundanya mau menemani bermain dan orang tua merasa terhibur karena bisa tertawa lepas menyaksikan kelucuan dan keriangan tingkah anak ketika bermain. Maka terciptalah simbiosis mutualisme yang pada akhirnya akan semakin merekatkan ikatan hati antara orang tua dengan anak.
Permainan bisa menjadi jembatan ketika terjadi gap antara orang tua dengan anak. Daripada gontok-gontokan dengan anak lebih baik kita menenangkan hati dengan mengajaknya bermain. Pilihlah permainan yang disesuaikan dengan umur dan juga minat anak tentunya. Bahkan hanya dengan mengajak anak bercanda saja itu sudah termasuk permainan yang bisa mencairkan suasana beku yang sering kali terjadi antara orang tua dengan anaknya.
Ternyata bermain dengan anak-anak juga sangat dibutuhkan loh oleh ayah bunda. Cara termudah yang bisa ayah bunda lakukan untuk mengatasi stres sepulang kerja adalah dengan cara bercanda dan bermain dengan anak. Melihat tingkah pola anak dan keriangan saat bermain menjadi oase tersendiri yang menyejukan gersangnya kepenatan ayah bunda setelah melewati aktifitas sehari-hari.
So masihkan ayah bunda gengsi untuk bermain dengan anak?jika Rasulullah saja sebagai teladan umat manusia tidak pernah gengsi untuk bermain dan bercanda dengan anak-anak, lalu apalah kita?



Jumat, 28 Agustus 2015

WANITA


Sumber gambar: tren.co.id/
Wanita, segala tentangmu selalu mencipta keindahan
Dunia dan seisinya ada dalam parasmu
Matamu mampu mengalihkan segala pandangan
Senyummu ibarat desau angin surga
Semua merindukanmu, semua menginginkanmu
Duhai wanita yang dunia bisa engkau putar balikan hanya dengan kerling bundar matamu
Semua makhluk bahkan rela mati-matian memperjuangkanmu
Kau mampu robohkan kokohnya tembok dunia

Benarlah kata pepatah, wanita itu tiangnya negara
Jika engkau benar, maka benarlah negaranya
Jika engkau salah, maka salahlah pula seisi negaranya
Maka: duhai wanita jadilah engkau permata dunia yang indah bukan hanya dengan paras elokmu, tetapi juga kecantikan hatimu. Berikanlah sinar terang digulitanya kegelapan. Tegarkanlah dunia walau hanya dengan seulas senyummu. Pancangkanalah tiang-tiangmu walau hanya dengan sentuhan lembutmu.

Bila telah datang masamu berganti gelar menjadi ibu
Maka jadilah engkau ibu sebagai madrasah bagi putra-putrimu
Agar kelak anak-anakmu menjadi generasi bintang yang gemerlap sepanjang masa


Jangan pernah bosan menebar benih-benih kebaikan walau hanya dengan tetes tetes keringat kelelahamu, duhai wanita